Sengketa Tapal Batas Berau–Kutim, SD di Biatan Ilir Dirusak Siswa Terpaksa Belajar di Kolong Rumah
Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU: Sengketa tapal batas antara Kabupaten Berau dan
Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini memunculkan dampak yang memprihatinkan di
sektor pendidikan. Bangunan Sekolah Dasar (SD) filial di Kampung Biatan Ilir
dilaporkan dirusak, sehingga aktivitas belajar mengajar para siswa tidak lagi
dapat dilakukan di sekolah.
Akibatnya, para siswa
terpaksa mengikuti kegiatan belajar di kolong rumah warga dengan sarana yang
sangat terbatas. Kondisi tersebut dinilai jauh dari layak bagi proses
pendidikan anak-anak.
Ketua Komisi I DPRD Berau,
Elita Herlina, menyayangkan peristiwa tersebut. Ia menilai konflik tapal batas
seharusnya tidak sampai menyeret fasilitas pendidikan yang menjadi kebutuhan
dasar masyarakat.
Menurutnya, anak-anak
tidak boleh menjadi pihak yang dirugikan akibat persoalan wilayah yang terjadi.
“Kami sangat menyayangkan adanya perusakan fasilitas sekolah akibat persoalan
tapal batas. Anak-anak tidak boleh menjadi korban dari konflik wilayah seperti
ini,” ujarnya.
Elita mengungkapkan,
kondisi di lapangan saat ini cukup memprihatinkan. Dengan keterbatasan
fasilitas, para siswa tetap berusaha mengikuti kegiatan belajar di kolong rumah
warga agar proses pendidikan tetap berjalan.
Namun, ia menilai situasi
tersebut tidak dapat dibiarkan berlarut-larut karena sangat mempengaruhi
kenyamanan serta kualitas kegiatan belajar mengajar.“Sekarang anak-anak harus
belajar di kolong rumah warga. Ini tentu sangat memprihatinkan. Pemerintah
harus segera mencari solusi agar kegiatan belajar mengajar bisa kembali
berjalan normal,” katanya.
Ia pun meminta pemerintah
daerah segera mengambil langkah cepat untuk menangani persoalan tersebut, agar
para siswa dapat kembali belajar di tempat yang layak dan aman.
Selain itu, Elita juga
menekankan pentingnya koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Berau dan
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, serta pemerintah provinsi untuk menyelesaikan
sengketa tapal batas yang menjadi pemicu peristiwa tersebut.
Menurutnya, penyelesaian
konflik wilayah perlu dilakukan secara serius dan bijak agar tidak terus
menimbulkan dampak bagi masyarakat. Ia juga mengimbau seluruh pihak untuk
menahan diri dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan persoalan yang ada.
“Kami berharap semua pihak
bisa menahan diri dan menyelesaikan persoalan ini melalui komunikasi yang baik.
Jangan sampai konflik wilayah justru merugikan masyarakat, terutama anak-anak
yang sedang menempuh pendidikan,” jelasnya.
Elita menegaskan DPRD
Berau akan terus mendorong pemerintah daerah untuk segera menghadirkan solusi,
baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, agar fasilitas pendidikan di
wilayah tersebut dapat kembali digunakan.
“Kami di DPRD tentu akan
mengawal persoalan ini. Yang terpenting saat ini adalah memastikan anak-anak
bisa kembali belajar di tempat yang layak dan aman,” pungkasnya. (sep/fn)